I
tungkai mungil lincah membelah padang ilalang di belakang ibu mengikuti memanggul kinjagh bercucur keringat sebelah tangannya erat menjinjing jeriken bambu

“tak perlu berlari anakku. jalanan hidup bukan bersahabat pada yang terburu kelak engkaulah pejalan itu. langkahlangkah menyulam gugusan sejarah menyusuri gelap dan suram seorang diri terseok mendaki puncak mimpi. jika bertuah engkaulah pejalan yang sejalan dengan ajaranajaran”

kaki mungil nan lincah melambat bingung kerut di kening menyesap kesiur angin mencerna untaian kata diliriknya bunga ilalang beterbangan
mengusik persembunyian para belalang

di tebing. di antara rimbun sikejut sang anak menuntun langkah ibu tersenyum ibu berpetuah “anakku. berjalanlah dengan menunduk onak demi onak mengintai sepanjang lengah kelak engkaulah pejalan itu. terasing dari orangorang berlari. dengan berjalan kau tahu siapa pantas dinanti. dengan berjalan matamu awas menyaksikan kepedihankepedihan yang merintih di sunyi sepi. kelak di tengah jalan genang airmata kan banyak ditemui gegas tak perlu berlari. waktu jualah penghantar takdir”

langit menjingga. tiba mereka di pangkalan mandi di atas batu ibu mencuci. di atas batu sang anak memahat petuah riak alirkan kisah ke muara zaman

II
“menyelamlah sedalamdalam kenangan kaut dan dekap segala yang datang
dari masa lalu!” Ibu berteriak dari atas batu selepas membilas pakaian terakhir

si anak seakan tak hirau. kenangan seperti apa yang sangkut di masa belia? tiadalah yang lebih pantas dikenang. selain embun dari mata ibu, yang meruah kala menanak nasi di dapur lengang asap mengepul bagai gumpalan uap amarah atas kepergian abah

“ibu dendangkanlah nyanyian pengelana!”

ibu terkesiap. diusapnya rinai yang turun di kelopak bisu segera dirinya menyelam menyembunyikan luka dalam. dalam

si anak sigap menunggangi kaki ibu yang beselonjor di dangkal sungai
kaki ibu mengayunayun tubuh kecilnya perlahanlahan syair terlantun merdu irama menyaingi deru sungai di telinga semesta

terkisah bujang memeluk rantau
tinggalkan kawan tinggalkan pulau
tinggallah ibu tinggallah surau
tinggallah sawah tinggallah dangau

di rantau bujang jangan bermuram
lafalkan kalam di kala malam
usah dikenang silam nan suram
jangan turuti kehendak dendam

syair itu menghentak sekujur waktu si anak terlelap di ribaan arus

III
beduk segera ditabuh
ke surau anak menenteng suluh
melangkahi halaman basah rumah ibu

di remang surau
dianggitnya alif ba ta tsa
menjadi rangkaian pijakan kelana
dilangitkan petitih tetua
“Tiada pejalan lupakan kandang
Surau tempat kaupulang
Surau tempat berpulang”

Lahat, 2017-2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Don`t copy text!