Di stasiun tua dan bisu
langkah pengembaraan usai sudah
tungkai melemah, lelah, dan patah
tubuh melunglai
di bangku usia aku tersadai

kunanti kedatangan kereta
yang konon segera tiba
: menyambangi aku—sebentar saja

di stasiun tua dan bisu
lengang dan suram hadirkan
bayangbayang tanah halaman
menelusup cepat di antara baris kecemasan

tanah halaman yang menanti segala kepulangan
dimana kisah bermula tentang perjalanan panjang
dan tak lekang

ada yang menitik di pipiku
saat menatapi jarum jam—melaju
menggilas cerita lalu
hingga menyisa puing-puing kenangan
di tiap sisi kota yang akan ditinggalkan

mega-mega berarak kelabu
sayup-sayup kereta berteriak sendu
kesedihan yang kulukis
tak menggubris tatapan sadis Sang Masinis

kereta tiba. meretas kenangan
dengan pisau perpisahan.

Lahat, Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Don`t copy text!